Kisah 5 Klub Bola Pertama di Indonesia

Kisah 5 Klub Bola Pertama di Indonesia

Thecoaststarlight.biz – Kisah 5 Klub Bola Pertama di Indonesia. Berikut adalah artikel tentang klub sepak bola pertama di indonesia. Perjalanan panjang sepak bola Indonesia memang sangat menarik. Tidak hanya lahirnya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia yang dikenal dengan PSSI, tapi juga hadirnya klub-klub lawas PSSI.

Sepak bola Indonesia bukanlah olahraga baru karena sejak tahun 1910-an olahraga rugby di Indonesia mulai ramai. Didukung oleh kekuatan kolonial, sepak bola di Indonesia mulai dimainkan oleh masyarakat adat. Klub bola pertama di Indonesia.

Dua klub sepak bola tertua di Indonesia, RoodWit di Batavia dan Vitoria di Surabaya, menjadi cikal bakal perkembangan sepak bola di Indonesia. RoodWit, didirikan pada tahun 1894, pada awalnya adalah klub kriket.

Baca Juga:

Daftar 3 Klub Bola di Jawa Tengah 2022/2023

Namun, perkembangan sepak bola di dunia mendorong RoodWit untuk mengikuti karir sepak bola. Begitu juga dengan Vitoria, yang murni klub sepak bola.

Dengan popularitas sepak bola, klub-klub lokal mulai bermunculan. Klub-klub ini akhirnya membentuk ikatan yang, di mata masyarakat modern, adalah klub pada umumnya.

Bondbond tertua di Indonesia membentuk federasi sepak bola pada waktu itu yang bertujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan. PSSI akhirnya didirikan melalui kerja keras pemegang obligasi lokal yang ingin memperjuangkan kemerdekaan melalui sepak bola.

Ketika PSSI didirikan, kompetisi dimulai pada tahun 1931. Setelah tahun itu, kompetisi PSSI berlanjut hingga kedatangan Jepang. Dihentikan, kontes PSSI kembali berjalan.

Sebagian besar obligasi lama masih ada sampai sekarang. Beberapa di antaranya bahkan menjadi klub yang banyak didukung oleh masyarakat Indonesia. Keberadaan asosiasi telah menjadi klub eksistensi. Sejauh ini, klub masih bisa melihat perkembangannya di sepak bola Indonesia.

Laman ini menghadirkan 5 klub tertua di Indonesia beserta cerita menarik yang mewarnai perjalanan mereka dalam ketatnya perhelatan sepakbola. Dengarkan kisah 5 klub bola pertama di Indonesia:

Kisah 5 Klub Bola Pertama di Indonesia

Klub Bola Pertama di Indonesia

PSM Makassar (1915)

Lahir pada tanggal 2 November 1915 sebagai Makassar Voetbal Bond, PSM Makassar adalah klub tertua di Indonesia. Karirnya yang panjang juga patut untuk diketahui oleh para penggemar sepak bola Indonesia.

MVB saat ini mencakup lebih dari sekedar penutur asli, karena tingkat administratornya mencakup campuran keturunan Belanda dan pribumi. Namun, MVB adalah motor penggerak sepak bola Sulawesi.
Sejak tiba di Jepang pada pertengahan 1940-an, MVB berada dalam keadaan limbo. Pengurus MVB kelahiran Belanda ditangkap dan penduduk asli diberi nama romusha. Dalam keadaan seperti itu, MVB hampir lumpuh. Saat itu, Jepang mengubah seluruh nama Belanda menjadi Indonesia untuk menimbulkan simpati. MVB juga menjadi Persatuan Sepak Bola Makassar yang kita kenal sebagai PSM.
Pasca kemerdekaan, PSM mulai membenahi operasional organisasi. Achmad Saggaf, presiden PSM saat itu, secara rutin menyelenggarakan kompetisi intramural. Selain itu, PSM juga sudah mulai membuka diri dengan klub-klub di Pulau Jawa dan PSSI.

See also  Daftar 8 Klub Bola Terkaya di Dunia

Sejak itu, komunikasi dengan PSSI diperluas. Para pemain asli Makassar juga mulai tampil percaya diri dalam laga melawan PSSI. Bintang PSM juga muncul, salah satu legendanya adalah Ramang.

PSM pada saat Ramang menang pada tahun 1957 ketika ia memenangkan kompetisi PSSI. Sejak saat itu, PSM menjadi salah satu klub terkuat di Indonesia. Gelar ini menjadi pembuka untuk kejuaraan selanjutnya. Hingga saat ini, Juku Spell telah meraih enam gelar dan terakhir pada Kejuaraan Nasional Indonesia 2000.

PSM terus berkembang hingga saat ini. Aksi Juku Spell masih bisa disaksikan di kompetisi Torabika Football Championship 2016 yang dipersembahkan oleh IM3 Ooredoo.

PPSM Sakti Magelang (1919)

PPSM Magelang lahir dengan nama Belanda, yaitu Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM). Ikatan Bond atau IVBM didirikan oleh seorang pribumi bernama Wihardjo dan didukung oleh empat klub, Mosvia, Stramvogels, HKS dan Among Rogo.

Yayasan IVBM terdiri dari orang-orang terpelajar. Hal ini tidak terlepas dari Mosvia, yang merupakan klub yang didirikan oleh siswa sekolah staf Pangreh Praja, yang seharusnya menjadi sekolah para pejabat kota masa depan. Kemudian HKS adalah klub yang didirikan oleh calon guru siswa di Magelang.

Karena latar belakang tersebut, IVBM menjadi salah satu motor penggerak perjuangan Indonesia melalui sepak bola. Pada tahun 1925, IVBM berubah nama menjadi Persatuan Persatuan Sepak Bola Magelang (PPSM). PSSM juga menjadi salah satu rekan pendiri PSSI pada tahun 1930. Intelektual mereka, yaitu EA Mangindaan, adalah kapten PPSM sekaligus guru siswa pengungsi di klub HKS.

EA Mangindaan, bersama dengan perwakilan lain dari afiliasi pendiri PSSI, hadir dan mewakili Magelang pada pertemuan pelatihan PSSI. Setelah PSSI berdiri, PPSM diberikan hak untuk mengikuti serangkaian kompetisi PSSI.

Namun, nama PPSM kalah mencolok dibanding Persis Solo atau VIJ Jacatra. Sangat mirip dengan Pro Vercelli, klub tua Italia, PPSM banyak terlibat dalam kompetisi kelas bawah Indonesia. Rekor terbaik
PPSM terukir pada tahun 1935. Saat itu, PPSM juga bersaing ketat dengan klub-klub kuat seperti Persis, PSIM dan VIJ. Sayangnya, PPSM hanya meraih juara ketiga. Mereka tak mampu mengalahkan keunggulan Persis dan VIJ yang sedang bermain terbaik di Indonesia.

Persis Solo (1923)

Pada tahun 1923, tiga tokoh dari dua klub besar di kota Solo membentuk asosiasi sepak bola yang diberi nama Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB). Gol Sastrosaksono dari klub Mars dan R. Ng. Reksodiprojo dan Soetarman dari klub Romeo harus menggoyang sepak bola di Solo. Pengurus VVB yang ingin menjadikan sepak bola sebagai alat perjuangan rakyat Indonesia juga mengubah nama VVB menjadi Indonesia. Di bawah kepemimpinan Soemokartiko, VVB resmi menjadi Persatuan Sepak Bola Solo Indonesia (Persis) pada tahun 1928.

See also  Daftar Klub Bola di Jawa Tengah 2022/2023

Persis Solo menjadi asosiasi kritikus pendiri PSSI. Melalui agen ikatannya, Soekarno, Persis aktif mengikuti rapat latihan PSSI tahun 1930.

Setelah PSSI berdiri, Persis juga aktif mengikuti kompetisi. Kebanggaan Solo, Bond terjebak perseteruan sengit di pengadilan dengan VIJ Jacartra atau kini dikenal dengan Persija.

Tahun 1930-an adalah era Persis dan VIJ. Bertarung dan bertemu dalam kesempatan uji coba, Persis dan VIJ tampak seperti Genoa dan Pro Vercelli, yang saat itu juga menjadi musuh di liga Italia. Tahun 1935 menjadi tahun pertama Persis Solo menjuarai kompetisi PSSI. Sebelumnya, mereka masih kalah bersaing dengan VIJ dan PSIM Yogyakarta. Gelar itu dipertahankan pada tahun 1936. Ia kehilangan gelarnya pada tahun 1937 dan 1938, dan mencalonkan diri untuk semua gelar dari tahun 1939 hingga 1943.

Pada tahun 1948, Persis kembali memenangkan kompetisi tertinggi Indonesia yang kali ini diselenggarakan oleh pemerintah Jepang untuk nusantara.

Sayangnya, transisi Exact ke era modern sepakbola tidak menyenangkan. Bahkan, Persis kini jauh tertinggal dari rivalnya di masa lalu, yakni Persija. Laskar Samber Nyawa sedang melalui masa-masa sulit. Solo menjadi kota pengumpan klub ibu kota, kalah bersaing dengan Persija.

Tercatat tiga klub Ibu kota numpang beken di Solo, mulai dari Arseto, Pelita Jaya, hingga Persijatim Jakarta Timur. Ketiganya dinilai hanya ingin mencari keuntungan dari masyarakat sepak bola Solo.
Kini, Persis Solo mulai bangkit dan merangkak dari kompetisi kasta kedua, yakni Indonesia Soccer Championship B.

Persebaya Surabaya (1927)

Persebaya adalah nama besar yang tercatat dalam sejarah sepak bola Indonesia. Didirikan pada tanggal 18 Juni 1927 oleh Bapak Pamoedji dan Paidjo dengan nama Soerabhaiasche Indonesia Voetbal Bond (SIVB), perkumpulan pribumi ini menjadi salah satu saingan dari Soerabhaiasche Voetbal Bond (SVB) yang didirikan pada tahun 1910 oleh Belanda.

SIVB telah menjadi penghubung penting Jawa Timur. Keinginan untuk berpisah dari pemerintah Belanda di Indonesia membuat SIVB menerima pendirian PSSI sebagai wadah untuk memperjuangkan kemerdekaan melalui sepak bola.

Pendiri SIVB Pamoedji langsung menghadiri pertemuan-pertemuan pendiri PSSI di Yogyakarta pada tahun 1930. SIVB juga merupakan salah satu klub terkuat pada tahun 1930-an dan 1940-an.

Pada tahun 1943 SIVB berubah nama menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (Persabaja). Dengan nama baru ini, Persebaya mulai eksis dengan predikat juara. 1950, 1951 dan 1952 menjadi hat-trick untuk gelar Surabaya.

Pada tahun 1960, Persebaja menjadi Persebaya dalam ejaan baru. Pada 1970-an, Persebaya menjadi saingan Persija Jakarta. Keduanya sering berhadap-hadapan di kompetisi PSSI. Tak berhenti sampai di situ, keduanya juga turut andil dalam timnas Indonesia nomor tahun 1970-an, Bajul Ijo berhasil meraih juara nasional yaitu pada tahun 1978. Tahun itu, Persebaya membalas dendam setelah kalah dari Persija tahun 1973. Gelar 1988 juga menggarisbawahi rivalitas Persebaya dengan Persija.

See also  20 Klub Bola Terbaik di Dunia Menurut Global Club Soccer Rankings

Selama keikutsertaannya dalam kejuaraan nasional Indonesia, Persebaya memenangkan gelar dua kali, pada tahun 1997 dan 2004. Setelah itu, Persebaya belum memenangkan gelar. Bahkan, Persebaya pada 2010 lalu melewati ujian terberat dengan dualisme. Tentu saja, sangat disayangkan dualisme itu bisa menghapus sejarah panjang kejayaan Persebaya.

Persija Jakarta (1928)

Persija Jakarta lahir Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ) pada November 1928. Didirikan oleh Soeri dan A. Alie di Tanah Abang, VIJ menjadi pusat gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Persija menjadi tim tersukses dalam sejarah sepak bola Indonesia. Buktinya terlihat dari julukan 10 gelar turnamen PSSI. Tahun 1931, 1933, 1934, 1938, 1954, 1964, 1973, 1975, 1979 dan 2001 adalah tahun-tahun kemenangan Macan Kemayoran.

Lahir dari sikap diskriminatif pemerintah Belanda, VIJ menjadi asosiasi penting yang mengantarkan lahirnya PSSI melalui pertemuan-pertemuan kecil di Jakarta pada tahun 1930. Dalam pertemuan besar dan sukses itu, PSSI, VIJ hadir dan diwakili oleh Sjamsoedin.

Pada awal kompetisi, VIJ menang pada tahun 1931, 1933, 1934, dan 1938. Mereka bersaing ketat dengan Persis di kompetisi pertama PSSI.

Pada era VIJ, ikatan vernakular ini diperkuat oleh Soemo dan Abidin. Kedua nama tersebut menjadi pemain terkenal pada masanya. Pada tahun 1950, VIJ berubah nama menjadi Persija.

Selama tahun 1950-an, Persija memiliki keuntungan besar dan diisi dengan pemain keterampilan teknis tinggi sebagai klub anggota VBO bergabung dengan Persija.

Berbeda dengan tahun 1960-an, ketika Persia memenangkan kejuaraan dengan pemain muda. Saat itu, liga intramural Persija disebut-sebut sebagai liga amatir terbaik dengan banyak pemain legendaris. Soetjipto Soentoro adalah salah satunya.

Pada masa jayanya, yakni tahun 1970-an, nama Persija menjadi jaminan kualitas. Bukan hanya karena ini adalah salah satu tim elit Indonesia tetapi juga tempat yang menyediakan pemain nasional terbanyak saat ini. Bukti otentiknya, hampir 11 pemain timnas Indonesia adalah pemain asal Persia.

Serangkaian prestasi juga hadir pada 1970-an. Saat itu, Persija menjuarai PSSI sebanyak 3 kali, pada 1973, 1975, dan 1979. Setelah itu, Persija nyaris hanya meraih satu gelar pada 1988. saat kalah dari Persebaya 23 di final. terakhir.

Meski kembali berbaju merah putih, Persija pernah menjadi juara era jingga. Pada turnamen Indonesia 2001 itu, Bambang Pamungkas dan kawan-kawan mengembalikan hadiah tersebut kepada warga Jakarta setelah berpuasa selama 22 tahun.

Saat ini Persija masih eksis di sepak bola Indonesia. Sayangnya, sebagai tautan lama dan sukses, Persija mengalami masalah klasik. Tanpa stadion tersisa setelah diusir dari Stadion Persija, Menteng, Macan Kemayoran seolah hanya merantau dan jarang menyentuh Jakarta.

You May Also Like

About the Author: Mark Stewart